"SELAMAT DATANG DI RUANG SEDERHANA INI..........
ruang tempat seorang anak desa menulis, merangkai &
ingin meraih impian...yang bukan sekadar mimpi....
"

"Mujahid adalah tanda semangat..
bukan semata pedang yang terangkat...,
Mujahid adalah tanda cita dan cinta yang suci...
dan bukan sebuah menara tinggi duniawi..."
Latest Posts

Rabu, 30 November 2016

UNTUK APA KITA DICIPTAKAN? (Khutbah Jum'at di Apartemen Salemba)

UNTUK APA KITA DICIPTAKAN?

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…




















Jama’aah sholat jum’at yang dirahmati Alloh,
• Yang utama dan pertama sekali marilah kita ucapkan dan ungkapkan kesyukuran kita kepada Allohu ta’ala yang sampai saat ini masih memberikan banyak kenikmatan kepada kita semua. Yang sampai saat ini masih memberikan kenikmatan yang tiada terhitung kepada kita semua. Betapapun, dengan kenikmatan yang telah Alloh berikan kita masih saja enggan untuk melaksanakan perintah-perintahNya. Betapapun, dengan kenikmatan itu masih saja enggan untuk meninggalkan apa-apa yang telah Alloh larang. Tapi semoga kita selalu berusaha menjadi hamba yang bersyukur. Yang benar-benar bersyukur sebagaimana syukur yang telah dicontohkan oleh Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam.

Aisyah Radhiyallahu anha telah meriwayatkan bahwa Nabi selalu bangun malam untuk menunaikan shalat sampai-sampai kedua kaki beliau bengkak. Maka Aisyah bertanya :
“Mengapa engkau lakukan ini wahai Rasulullah, bukankah ALloh telah mengampuni kesalahan Anda baik yang sudah lampau maupun yang akan dating?” Lalu beliau menjawab :
Afalaa Akuunu ‘Abdan Syakuro?
Salahkah aku jika menjadi hamba yang bersyukur? (HR. Muslim).
Begitulah…Rasulullah mengajarkan kita tentang arti kesyukuran, yaitu dengan cara menambah dan meningkatkan selalu kuantitas dan kualitas ibadah kepada Allohu ta’ala.

• Salam juga sholawat marilah senantiasa juga kita senandungkan untuk Nabi Mulia…beserta untuk keluarga dan sahabatnya. Yang mana…tidak ada satupun kebaikan di dunia ini yang terlewatkan yang tidak dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Maka sungguh aneh, jika ada seorang yang mengaku mukmin tapi masih saja mencari idola-idola selain Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassallam dan juga para sahabatnya.
Karena sungguh telah sempurna dan paripurna apa-apa yang telah beliau dan para sahabatnya contohkan. Baik bagaimana menjadi seorang bapak, menjadi seorang suami, menjadi seorang panglima perang, menjadi pimpinan Negara, menjadi pengusaha dan sebagainya.

Jamaah sholat jum’at yang berbahagia…
• Tak lupa..khotib ingin mengajak, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Alloh subhana wata’ala. Dengan taqwa yang sebenar-benarnya pula. Yaitu dengan meninggalkan segala apa yang telah Alloh larang. Dan selalu mentaati segala apa-apa yang telah Alloh perintahkan kepada kita.
Atau sebuah definisi taqwa yang telah disampaikan oleh sahabat Ubay bin Ka’ab ketika ditanya oleh Umar bin Khaththab tentang definisi taqwa. Maka Ubay bin Ka’ab menjawab “Apakah anda tidak pernah berjalan di tempat yang penuh duri? Umar menjawab Ya”. Ubay bertanya lagi : Lalu anda berbuat apa?” Jawab Ummar, Ya saya sangat waspada dan bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duri itu”. Ubay berkata “Begitulah contoh taqwa”.

Jadi begitulah sikap seorang mukmin ketika hendak melakukan sebuah perbuatan dan perkataan, akan sangat berhati-hati dan sungguh-sungguh agar tidak mengundang kemurkaan Allohu ta’ala.

Jamaah sholat jum’at yang dirahmati Alloh..
Kualitas sebuah produk dikatakan baik jika produk tersebut mampu digunakan sesuai dengan tujuan diproduksi. Kualitas sebuah alat misalnya, dikatakan baik dan berkualitas jika mampu digunakan sebagaimana tujuan dia dibuat atau diproduksi.

Jama’ah….begitu juga kualitas manusia, maka dikatakan baik jika dia hidup berfungsi sesuai dengan tujuan dia diciptakan oleh Allohu ta’ala. Maka ketika Alloh bertanya dalam Qur’an Surat AlQiyamah ayat 36 :


Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?

Dalam Surat yang lain Alloh pun kembali bertanya kepada kita (Al-Mu’minun ayat 115) :




Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Pertanyaan dari Alloh ini bukanlah sebuah pertanyaan yang harus dijawab. Karena Alloh pun tidak mungkin bertanya karena ketidaktahuan Alloh. Tapi Alloh seakan-akan mengingatkan kepada kita semua. Seakan-akan menyindir kita semua, agar kita mereview kembali langkah-langkah dan kesibukan kita hidup di dunia, SUDAH SESUAIKAH DENGAN TUJUAN KITA DIHIDUPKAN DI DUNIA INI…?

Karena sebagian di antara manusia menganggap bahwa hidup di dunia ini hanyalah kebetulan semata. Dilahirkan dari rahim seorang ibu, menjadi anak-anak hingga dewasa, kemudian hidup sesuai selera masing-masing kemudian mati sebagai akhir sebuah perjalanan kehidupan seseorang. Dan di rentang waktu menunggu kematian itu hanyalah pergulatan mencari nafkah, bekerja dan berkeluarga.

Dan mungkin saja sadar atau tidak, kita terpengaruh oleh paham seperti itu. Hidup hanyalah untuk bekerja. Mencari nafkah dengan sejumlah rutinitas kesibukan kita.
Jika sampai ada pemikiran demikian…masyaAlloh hal tersebut sangat bertentangan sekali dengan logika sehat kita sebagai manusia. Dan ini merupakan bahaya yang besar bagi kita sebagai manusia.

Jama’ah sholat jum’at yang dirahmati Alloh…
Anggap saja bahwa jamaah sekalian merupakan karyawan dari sebuah perusahaan, apakah mungkin anda jauh-jauh datang dari rumah ke kantor perusahaan tanpa tujuan yang jelas?? Hanya untuk datang, duduk-duduk dan kemudian pulang begitu saja??? Padahal perusahaan tempat anda bekerja telah memberikan berbagai fasilitas, kantor yang nyaman, tempat duduk yang enak, meja kursi dan gaji tiap bulan???
Apalagi kita didatangkan, dihidupkan oleh Alloh dengan segala fasilitas lengkap langit dan bumi beserta seluruh isinya yang ada. Apakah mungkin hanya untuk main-main dan kebetulan semata tanpa tujuan?

Hal yang MUSTAHIL.

Dalam Qur’an Surat Adz-Dzariyat : 56 :


Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah/mengabdi kepadaKu
Dalam ayat ini Alloh telah menggariskan visi atau tujuan kita diciptakan yaitu hanya untuk BERIBADAH, kepada siapa? Hanya kepada Allohu ta’ala saja. Tidak ada kepada selainNya.
Lalu kemudian ada yang bertanya, apakah kemudian kita hidup hanyalah sholat, dzikir, naik haji dan tidak bekerja atau melaksanakan kegiatan yang lain?
Jamaah…jangan sampai kita mengartikan sempit arti kata ibadah.

Ibadah dalam arti bahasa adalah perendahan diri, ketundukan dan kepatuhan.

Dan menurut istilah syar’i , definisi terbaik dan terlengkap adalah apa yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dia rahimahullah mengatakan, “Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Alloh dan diridhaiNya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang Nampak (lahir). Maka sholat, zakat, puasa, haji, berbicara jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada orang tua, menyambung silaturahim, menepati janji, memerintah yang ma’ruf, melarang dari yang mungkar, berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal di perjalanan), berbuat baik kepada orang atau hewan yang dijadikan sebagai pekerja, memanjatkan do’a, berdzikir, membaca Qur’an dan lain sebagainya adalah termasuk bagian dari ibadah. Begitu pula rasa cinta kepada Alloh dan Rasulnya, takut kepada Alloh, inabah (kembali taat) kepadaNya, memurnikan agama (amal ketaatan) hanya untukNya, bersabar terhadap keputusan takdir Alloh, bersyukur atas nikmat-nikmatNya, merasa ridho terhadap qadha/takdirNya, tawakal kepadaNya,mengharapkan rahmat (kasih sayangNya), merasa takut dari siksaNya dan lain sebagaimanya itu juga termasuk bagian dari ibadah kepada Alloh”.

Jadi ibadah tidak hanya sholat, zakat dan dzikir. Tapi seluruh apa yang kita lakukan yang dipenuhi dengan sikap cinta, harap, patuh, tunduk dan takut serta ridho hanya kepada Alloh itulah ibadah.

Jamaah yang dirahmati ALloh..
Karena pentingnya tujuan yang Alloh tetapkan ini, maka Alloh pun mengutus para Rasul di setiap ummat untuk memberikan penjelasan tentang tujuan penciptaan manusia. Dan setiap Rasul diberikan tugas yang sama yaitu untuk menyuruh manusia menyembah Allohu ta’ala saja, untuk memurnikan ibadah kepada ALlohu ta’ala saja. Alloh berfirman dalam QS. An-Nahl : 36.





Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) : “sembahlah Alloh saja” dan jauhilah Thogut”…

Di dalam surat ini dijelaskan kembali bahwa tugas Rasul adalah untuk mengingatkan kepada manusia. Seluruh Rasul dari Nabi Adam alaihissalam s/d Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam semua mempunyai tugas yang sama, yaitu memerintahkan manusia agar menyembah Alloh saja dan menjauhi thagut. Apa itu thagut?

Thagut berasal dari kata thaga yang artinya melampaui batas. Atau sederhananya pengertiannya adalah sesembahan yang disembah selain diibadahi selain Allohu ta’ala.

Nabi Ibrahim – membersihkan pengibadahan thd patung2
Nabi Musa – Fir’aun yang mengklaim sebagai Tuhan yaitu yang berhak mengatur ketundukan manusia.


Rasulullah selama 13 tahun juga berdakwah di Makkah untuk mengingatkan hakikat tujuan penciptaan manusia kepada penduduk Makkah. Dan ketika itu bukannya penduduk Makkah tidak mengenal Allohu ta’ala, tapi mereka mengakui adanya Allohu ta’ala tapi di sisi lain mereka mencintai Latta dan Uzza.

Latta dan Uzza dahulu adalah orang-orang sholeh di Makkah. Kemudian setelah meninggal dunia,
- penduduk makkah memuliakan kuburannya, menziarahi dan sebagainya.
- Tidak cukup dengan pergi ke kuburnya atau dengan alasan efisiensi dibuatlah gambarnya
- Lalu tidak puas dengan gambar saja, maka dibuatlah patung yang mirip dengan lata dan uza.
- Demikian sampai puncaknya menjadi kedudukan lata dan uza sebagai tempat bersandar dan meminta pertolongan.

Mereka menyerahkan hak Alloh yaitu memberi rizki, memberi keberuntungan dan mudhorot kepada selain Allohu ta’ala. Hal inilah yang Rasul ingin bersihkan dari penduduk Makkah…
Jamaah yang dirahmati Alloh..
Jadi jika bisa kita simpulkan, tujuan penciptaan manusia yaitu untuk beribadah kepada ALlohu ta’ala semata, membersihkan atau memurnikan ibadah manusia hanya kepada Alloh saja disebut juga dengan tauhid.

Atau dengan kata lain maka bertauhid adalah tujuan kita diciptakan di dunia ini. Untuk itu mari kita cek ulang, segala pola pikir, keyakinan dan perbuatan kita, jangan sampai ternodai oleh kemusyrikan. Terlebih di akhir zaman ini.

Betapa banyak :
1. Sms/broadcast mengandung kesyirikan.
2. Percaya perdukunan.
3. Percaya ramalan-ramalan
4. Tempat-tempat keramat.
5. Bahkan kuburan-kuburan para orang-orang sholeh (tidak ada bedanya dengan Latta dan Uzza)








Alhamdulillahi rabbil ‘alamin washolatu wassalamu ‘ala ashrafil ambiyaai wal mursalin, wa ‘ala alihi washohbihi ajma’in.

Jamaah yang dirahmati Alloh…,
Dalam kesempatan khutbah yang kedua ini, alfakir ingin menyimpulkan dari khutbah yang pertama :

A. Bahwa sekali lagi, tujuan kita diciptakan adalah untuk memurnikan ibadah (ketaatan, kepatuhan, ketundukan, kecintaan, keberharapan) kita kepada Allohu ta’ala saja atau bisa diistilahkan agar kita bertauhid kepada ALlohu ta’ala saja. Ini adalah konsekuensi atas pengakuan kita terhadap Alloh sebagai Tuhan Pencipta kita. Sedangkan dunia beserta isinya ini adalah fasilitas dari Alloh agar kita semakin memurnikan ibadah kita kepada Allohu ta’ala. Bukan sebaliknya…..kita sibuk dengan fasilitas sehingga lupa akan tujuan hidup kita.

B. Jika kita sudah mengetahui demikian, mari menjadikan Tauhid sebagai prioritas kita dalam kehidupan kita, menjadikan pertimbangan dalam setiap hal :
1. Ingin mendidik dan menyekolahkan anak, pertimbangkanlah tauhid.
2. Ingin bekerja, pertimbangkanlah tauhid.
3. Ingin berpolitik, pertimbangkanlah tauhid.
4. Ingin menikah, menikahkan…
5. Ingin apapun, pertimbangkan tauhid

C. Maka ilmu yang paling pertama kita cari/kita utamakan dan pahami di atas ilmu-ilmu yang lain adalah ilmu tentang tauhid, tentang tujuan penciptaan kita. Kita memohon kepada Alloh dengan niat yang ikhlas agar Alloh memberikan hidayah/petunjuk kepada kita agar kita sukses dan berhasil menjadi hamba Alloh dengan sebenarnya.



























Aqimissholah…..!!!
read more...

Senin, 16 November 2015

Warna Yang Berlalu...






Beberapa bulan…terasa cepat berdiam diri. Kepala sesak dijejali aktivitas di ujung telunjuk orang lain atau mungkin karena memang jiwa belum mapan mengendalikan keadaan sesuai keidealan mimpi. Tak terhitung rasa berlalu…tak terhitung hikmah raib begitu saja ditelan lelah…!

Kini ingin kutuangkan beberapa rasa yang masih benar-benar terasa hingga kini. Terasa di benak yang mungkin akan terpahat erat tak beranjak.
Mulai dari detik-detik perginya Ramadhan yang selalu menyisakan sedikit duka…karena belum juga mampu untuk itikaf di ujung senjanya. Masih begitu lekat ingatan…beberapa jama’ah qiyamulail di malam terakhir di Masjid Al Anshor wal Muhajirin menjerit menangis di sela-sela bacaan sang Imam saat itu. Hingga….sesak pula dadaku saat itu turut hanyut dalam keharuan itu……dan pada akhirnya kututup dengan do’a semoga tahun depan ku mampu mengantar Ramadhan dalam keadaan tak terjejali kepentingan rutinitas seperti biasanya…

Segala puji bagi Alloh…di syawal tahun ini…para kekasih hati hadir mengisi dan menghiasi kegembiraan “kemenangan” setelah Ramadhan…
Yang tak tertinggal pula mewarnai hari-hari itu, dialihkannya Kios Amanah dari paman kepadaku…Kios yang sempat menjadi saksi bisu berjuta kenangan perjuanganku saat itu. Yah…perjuangan memenuhi tuntutan cinta dan cita….dan perjuangan menemukan cinta menuju bahtera perjuangan yang baru kala itu. Dan Alhamdulillah…hanya karena pertolongan Alloh dan bermodal niat mampu terwujud..insyaAlloh Kios Amanah menjadi “agen perubahan”..!!

Setelah itu…………………!!?
Ada adegan baru lagi mewarnai…, setelah berdiskusi, memberi argument, menguatkan alasan, menguatkan tekad dan niat…Alhamdulillah babak baru kehidupan untuk berlepas diri dari hidup di ujung telunjuk orang lain pun saya ajukan…!! 9 Oktober 2015 kuajukan Surat Pertama sekaligus Surat Terakhirku yaitu surat perpisahan kepada tempat yang kurang lebih tujuh tahun “memeras peluh” dan “membesarkanku” mengenal dunia…yaitu sejak 28 Oktober 2008. Sedih sebenarnya meninggalkannya, karena terlalu kental warnanya menghiasai kehidupanku selama itu. Baik suka maupun duka, baik kecewa maupun bahagia, baik menyesal maupun berharap dan banyak rasa yang sudah tertulis di sana. Bahkan….sesuatu yang tak pernah tergambarkan pun menoreh di akhir perjalananku di sana! Sesuatu itu seperti pelangi…, indah tapi tak kan mungkin tergapai. Kecuali jika karena Alloh menghendaki…Wallahu ‘alam. Semoga Alloh mengampuni segala lenanya hati……….


Yah…..mungkin masih banyak hati yang bertanya akan kepergianku. Karena lahirnya mungkin aku telah dalam kedekatan yang membahagiakan. Namun tidak pada kenyataannya. Entah subyektif atau emosional tapi memang seperti itu adanya. Aku bagai ikan dalam aquarium yang indah saat itu. Kemudian sesekali ditunjukkan umpan yang menggiurkan agar tetap menghiasai aquarium itu…namun umpan itu ternyata hanya umpan imitasi dari plastic yang tak akan pernah busuk tapi hakekatnya menipu…! Tapi Alhamdulillah…aku masih selalu berusaha bersyukur dengan apa yang bias kunikmati dalam aquarium itu…
Singkat cerita…segala puji hanya bagi Alloh Rabb semesta alam…, kini aku bebas seperti elang di sana. Betapapun belum mampu terbang terlalu tinggi tapi aku terus berharap mampu mengepakkan sayap menembus awan di atas sana…sembari mengucap syukur karena ternyata langit itu luas bagi siapa yang mau menatapnya dan mencoba terbang ke sana.
Semoga bukan tingginya terbangku yang akan menjadikan bangga di dadaku…namun aku berharap tingginya terbangku akan semakin menampar dan menyadarkanku bahwa diri ini kecil dan tiada berdaya di hadapan Rabb yang telah menggelar semesta ini…kemudian mampu terus menundukkan hati di atas ketaatan padaNya. Aamiin.
Karena menurut saya…kesuksesan hakiki adalah sebuah posisi dimana seorang hamba bebas untuk melakukan ketaatan kepada Rabb sejatinya. Artinya semakin sukses harusnya semakin taatlah hamba itu. Anda setuju..??

Yah….itulah rasa..mohon maaf jika anda saat membaca ini sempat melawan dengan argument anda di hati, bahkan tidak terima dengan apa yang saya tuliskan. Jika bersedia balaslah dengan tulisan anda, bukan dengan semata-mata perasaan anda. Karena berbeda dimensi tulisan ini dengan perasaan anda.

Semoga saja tulisan ini mampu sedikit melepas kepenatan yang tiada berujung, karena memang begitulah sifat dunia..penuh dengan kepenatan, baik itu di jalan ketaatan sekalipun. Ambillah yang perlu dan buang jauhlah yang tiada perlu….,!!

Wallahu ‘alam.








read more...

Senin, 18 Mei 2015

Jika Engkau Hadir...







Aromamu telah tercium di mataku..
Tapi apakah benar hanya dengan dua mataku ini...atau
Dengan mata yang ada di dalam dadaku....


Suara langkah kakimu telah terdengar di telingaku
Tapi apakah benar hanya dengan kedua telingaku...atau
Dengan telinga yang ada di dalam hatiku....


Hadirmu...sungguh dinantikan...
Bagi hati yang diliputi obsesi sesaat
Maupun bagi hati yang benar-benar memendam kerinduan
Dan...tercelup dalam bejana semangat taat...

Duhai tamu...
Ada khawatir berlalu lalang dalam jalan benakku
Khawatir tak cukup aku menjamumu....
Karena kerdilku dan lemahku melawan hembusan angin rutin
Yang kemudian menidurkanku dalam hadirmu....

Duhai tamu...
Walau begitu..tetap ingin kunyatakan....
Bahwa dada ini sesak penuh rasa ingin mengungkapkan..
Tentang sebuah cinta dan kerinduan yang teramat dalam
Walau tak sedalam palung samudera...

Duhai tamu...
Kunantikan hadirmu di ujung do'a
Kunantikan berkahmu di setiap harap
Kunantikan syahdumu di tegak kakiku
Agar tepat melangkah memenuhi kata rinduku.....



read more...

Senin, 09 Maret 2015

Lirih Cinta






Sebenarnya kami tak meniru….
Tapi ingin belajar pada bintang-bintang yang berpijar
Tentang riangnya mereka mengisi malam
Tentang tak bosannya mereka maramaikan kelam…..

Sebenarnya kami tak meniru….
Tapi ingin belajar pada angin yang berhembus
Tentang tulusnya ia membelai sepinya malam
Tentang tiada gentarnya ia menembus ruang-ruang nan kelam…

Sebenarnya kami tak meniru…,
Tapi ingin belajar pada mentari, pada kepakan sayap-sayap burung di siang hari..

Duhai Rabbi…..ajari kami…..
Tentang indahnya setia, bagai bintangMu pada malamMu
Tentang sucinya janji, bagai mentariMu pada pagi dan soreMu
Tentang gigihnya perjuangan…bagai kepakan sayap-sayap itu pada anginMu

Duhai Rabbi…inilah kami…
Dua hati yang ingin terikat oleh kalamMu
Dua hati yang ingin berkarya seperti bintang dan mentariMu
Duhai Rabbi…, Inilah lirih cinta kami untukMu…
Maka tuntunlah kami dalam cintaMu….selalu…….





Puisi ini teruntuk adikku yang akan mengarungi bahtera barunya
Semoga keberkahan selalu mengiringi langkahmu bersama pasangan hidupmu kelak


read more...

Sabtu, 29 Maret 2014

SAYA BUKAN GOLPUT TAPI MEMPERTAHANKAN AQIDAH (1)




Sebentar lagi di negara yang kita cintai ini akan mengadakan hajat besar dalam bidang politik, yaitu pemilu. Siapa yang tidak dikenal dengan pemilu? Saat masih kecil kita senang sekali melihat ramainya konvoi kendaraan rombongan ketika mengadakan kampanye...(eh itu pengalaman saya pribadi ya.., ketika di kampung).

Jadi pemilu memang bukan barang asing lagi bagi kita. Apalagi pemerintah melalui media-media yang ada selalu menyerukan agar setiap warga Negara menggunakan hak pilihnya untuk menyukseskan jalannya “pesta rakyat” itu. Dengan alasan atau tujuan agar rakyat bisa menentukan sendiri nasib dan arah bangsa ini ke masa depan yang lebih cemerlang (wow..kayak iklan deterjen yaa...).

Baik...to the point saja..., tulisan ini saya tulis untuk menjawab beberapa pertanyaan dari saudara-saudara saya yang saya cintai hanya karena Alloh...ketika saya menyatakan diri bahwa Pemilu itu Syirik...(hmm....serem bener sih...masak pemilu syirik?)...

Berikut sedikit ulasannya ya...., diminum dulu kopi atau tehnya ya...hehe.

Arti Pemilu atau Demokrasi
Dilihat dari bahasanya demokrasi berasal dari dua kata yaitu demos dan kratos. Demos berarti rakyat dan kratos adalah kekuasaan atau kedaulatan. Jadi artinya rakyat diberikan hak penuh untuk menentukan mengatur jalannya kehidupan Negara. Makanya ada pengertian singkat bahwa demokrasi itu adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Dan dikarenakan jumlah rakyat itu sangat banyak maka mereka mewakilkan suara atau kehendak mereka melalui para wakil-wakilnya di dalam pemilu yang dilaksanakan. Artinya dalam sistem demokrasi setiap orang mempunyai hak yang sama tidak ada pembedaan suku, ras maupun agama dalam mengeluarkan suaranya. Makanya kemudian muncul istilah yang sering kita dengar, bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita harus adil dan demokratis.

Dari pengertian demokrasi dan pengaplikasian pemilu yang ada di depan mata kita, maka silahkan dijawab dengan baik dan jujur beberapa pertanyaan di bawah ini :
1. Siapa yang berkuasa dan berdaulat dalam sistem demokrasi?
2. Suara terbanyak ataukah suara yang terbaik yang akan disahkan dalam sistem demokrasi?
3. Apakah ada perbedaan antara hak muslim dan hak non muslim dalam sistem demokrasi?
Mungkin cukup tiga pertanyaan dulu yang perlu kita jawab dengan jujur ya.

Point 1. Siapa yang berdaulat atau berkuasa dalam sistem demokrasi? Yaa...yang berdaulat di sini adalah Rakyat. Lalu sejalankah hal ini dengan Islam. Yuk...mari kita cek...,

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Hak menetapkan hukum itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak beribadah kecuali kepada Dia. Itulah dien yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Yusuf : 40)



Dalam ayat ini disebutkan bahwa penyandaran hukum kepada Allah adalah ibadah, dan Allah memerintahkan kepada manusia agar tidak menyandarkan kewenangan pembuatan hukum kecuali kepada Allah, dan ini disebut beribadah kepada Allah, dan ketika dipalingkan kepada selain Allah maka itu disebut beribadah kepada selain Allah atau sebagai bentuk kemusyrikan terhadap Allah.

Hukum ini sendiri dalam ayat itu Allah sebut sebagai DIEN (itulah dien yang lurus). Jadi hukum ini adalah dien, ketika orang mencari hukum selain hukum Allah maka dia telah mencari dien selain dien Islam, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan :

“Barangsiapa mencari dien selain Islam tidak mungkin diterima dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Ali Imran : 85)

Dalam hal ini sangatlah jelas, penyimpangan terbesar adalah pengambilan hak mutlak Alloh sebagai Rabb (Pencipta dan kemudian Pengatur) dirampas oleh makhluknya (rakyat). Waduh...serem bener ya...bahasa dirampas..., Lho karena sudah gamblang bahwa dalam sistem demokrasi yang berkedaulatan adalah rakyat. Yaa...terserah rakyat lah...yang mengatur. Mau haram mau halal itu rakyat yang berdaulat. Makanya masih jelas di depan mata kita...yang namanya perzinaan yang jelas-jelas Alloh larang malah dilokalisasi (dihalalkan). Yang namanya Miras yang jelas-jelas diharamkan oleh Alloh malah hanya dibatasi (masih dihalalkan). Yang namanya poligami, yang jelas-jelas dihalalkan malah diharamkan...lho lho...lho...

Yuk kita simak, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman :

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali mereka hanya menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. At Taubah : 31)

Dalam ayat ini Allah memvonis orang Nashrani dengan lima vonis :
1. Mereka telah mempertuhankan para alim ulama dan para rahib
2. Mereka telah beribadah kepada selain Allah, yaitu kepada alim ulama dan para rahib
3. Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah
4. Mereka telah musyrik
5. Para alim ulama dan para rahib itu telah memposisikan dirinya sebagi arbab.

Imam At Tirmidzi meriwayatkan, bahwa ketika ayat ini dibacakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan ‘Adiy ibnu Hatim (seorang hahabat yang asalnya Nashrani kemudian masuk Islam), ‘Adiy ibnu Hatim mendengar ayat-ayat ini dengan vonis-vonis tadi, maka ‘Adiy mengatakan : “Kami (orang-orang Nashrani) tidak pernah shalat atau sujud kepada alim ulama dan rahib (pendeta) kami”,
Jadi maksudnya dalam benak orang-orang Nashrani adalah; kenapa Allah memvonis kami telah mempertuhankan mereka atau apa bentuk penyekutuan atau penuhanan yang telah kami lakukan sehingga kami disebut telah beribadah kepada mereka padahal kami tidak pernah shalat atau sujud atau memohon-mohon kepada mereka?.
Maka Rasul mengatakan : “Bukankah mereka (alim ulama dan para rahib) menghalalkan apa yang Allah haramkan terus kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka telah mengharamkan apa yang Allah halalkan terus kalian ikut mengharamkannya?”. Lalu ‘Adiy menjawab : “Ya”, Rasul berkata lagi : Itulah bentuk peribadatan mereka (orang Nashrani) kepada mereka (alim ulama dan para rahib).


Ketika hak kewenangan pembuatan hukum disandarkan kepada selain Allah seperti kepada alim ulama dan para pendeta, maka itu disebut sebagai bentuk penuhanan atau peribadatan kepada mereka, dan orang yang menyandarkannya atau orang yang mengikuti dan merujuk kepada hukum buatan disebut orang musyrik yang beribadah kepada hukum tersebut dan juga telah mempertuhankan si pembuat hukum tersebut yang mana si pembuat hukum itu disebut arbab (tuhan-tuhan pengatur).

Dalam sistem demokrasi, sumber hukum bukanlah dari Allah (Al Qur’an dan As Sunnah) melainkan Undang Undang Dasar yang dibuat oleh makhluk (rakyat), ini adalah sebuah bentuk kemusyrikan nyata....

Ngomong-ngomong....dan btw...mohon maaf shob...ane mau kuliah dulu...ya...1 point dulu silahkan dan mari kita cermati dan jujur dari hati yang paling dalam silahkan disimpulkan ya..., nanti kita lanjut beberapa point lagi..



insyaAlloh.
read more...